
Seorang hidup, pastilah dihadapkan dengan suatu pilihan, yang mana pilihan tersebut membutuhkan suatu putusan. Dan jika kita salah dalam memutuskannya maka bisa berakibat fatal.
Oleh sebab itu , dalam menentukan suatu putusan haruslah kita memikirkannya dengan matang baik & buruknya. Di dalam sebuah buku yang berjudul “ 1 jam menaklukkan orang-orang di sekitar anda” –pun dikatakan bahwa kita mrenjadi orang yang berputus asa bukan karena kita tidak mampu bertahan, melainkan karena kita telah mengambil keputusan yang fatal.
Satu kenyataan buruk yang kita hadapi pada hakekatnya tidak mendekte kita harus mengambil keputusan tertentu, tetapi menawarkan pilihan pada kita. Tawaran itu antara lain:
1. Boleh memilih keputusan untuk mundur
2. Bolek memilih keputusan untuk mandek atau kembali ke semula
3. Boleh memilih keputusan untuk terus melangkah dengan mensiasati, mencari celah kreatif dll,
Salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki untuk melahirkan keputusan yang no.3 yaitu memiliki batin yang kondusif & positif. Kita saksikan sendiri di lapangan bahwa meskipun semua orang punya keinginan untuk memilih keputusan no.3, tetapi karena hanya sedikit orang yang mempumyai kemampuan menghilangkan pikiran negative , maka praktiknya justru keputusan no.1 atau no.2 yang menjadi pilihan favorit.
Jika dikaitkan dengan praktik hidup sehari-hari, ada hal yang tidak bisa diingkari bahwa semua orang setiap orang telah memilik keputusan tertentu tentang apa yang dilakukannya. Dari keputsan yang dipilih itulah lahir sebuah tindakan yang menjadi penyebab sebuah hasil. Karena itu, ada saran Brian Tracy yang patut kita renungkan “ yang menetukan nasib kita itu bukan apa yang menimpa kita, melainkan apa yang kita ambil atas apa yang menimpa kita”. Artinya keputusan mundur akan mengkaikhan kemunduran, keputusan mandek akan menghasilkan kemandekan, dan keputusan maju akan menhasilkan kemajuan.
sO, semua tergantung kalian sendiri, dan mulailah berfikir untuk suatu putusan yang terbaik.
GOOD LUCK!!!!
By: Srisasi Yuni Nurhayati/ X-6
0
komentar
Posted in
Label:
pEnGetAhuAn pEntiNg

Gertrude Baines dinobatkan jadi orang paling tua sedunia yang masih hidup hingga sekarang. Mau tahu berapa umut Gertrude saat ini?Gertrude Baines adalah wanita Afrika Amerika kelahiran 6 April 1894.
Dirinya lahir di Shellman, Georgia dan merupakan anak ke 3 dari Jordan dan Amelia Baines. Meski belum dipastikan secara resmi dalam Guinnness Book of Records karena pihak Guinness masih harus mengadakan investigasi yang komplit, namun Gertrude bisa jadi dinobatkan jadi orang tertua yang masih hidup, setelah sebelumnya orang tertua sedunia versi Guinness, Maria de Jesus dos Santos asal Portugis, meninggal pada 2 January 2009 kemarin. Gertrude yang pernah menikah dengan Sam Conly saat masih muda dan juga pernah memiliki seorang putri bernama Annabelle namun meninggal karena demam Typoid saat berusia 18 tahun, ternyata pernah tinggal sendirian hingga usianya mencapai 105 tahun. Saat ini Gertrude tinggal di Los Angeles. Selain menderita arthritis dan sudah gak mampu berjalan lagi, Gertrude masih dalam kondisi sehat untuk orang seumurannya. Bahkan Gertrude gak pernah menderita sakit parah hingga kini di usianya ke 114 tahun atau hampir 115 tahun ini. Hebat, ya!!
By:unppadang.blogspot.com
0
komentar
Posted in
Label:
pEnGetAhuAn pEntiNg
Kembang kertas atau populer juga dengan nama bugenvil (ejaan Inggris: [ˌbuːɡɨnˈvɪliə][1]cf. bougainville; nama ilmiah: Bougainvillea, terutama B. glabra) merupakan tanaman hias populer. Bentuknya adalah pohon kecil yang sukar tumbuh tegak.
Keindahannya berasal dari seludang bunganya yang berwarna cerah dan menarik perhatian karena tumbuh dengan rimbunnya. Seludang bunga ini kerap dianggap sebagai bagian bunga, walaupun bunganya yang benar adalah bunga kecil yang terlindung oleh seludang.
Tanaman bunga kertas atau bougainvillea ini mempunyai bagian tanaman yang berwarna-warni. Oleh karena itu, tanaman bougainvillea menjadi tanaman hias yang sangat populer karena kecantikkan warnanya dan cara merawatnya yang mudah.
Berasal dari Amerika Selatan, tanaman ini sering ditanam di taman dan kawasan perumahan. Pada waktu tanaman ini berbunga, tanaman ini mempunyai kebiasaan merontokkan beberapa daunnya. Bentuknya adalah pohon kecil yang sukar tumbuh tegak. (Seludang bunga ( atau spatha) merupakan daun pelindung, yang seringkali berukuran besar, yang menyelubungi seluruh bunga majemuk waktu belum mekar. Seludang bunga dapat dijumpai pada struktur generatif ("bunga") tumbuhan anggota suku aren-arenan (Arecaceae dan suku talas-talasan (Araceae). Seludang bunga sebenarnya merupakan suatu bentuk khusus dari daun pelindung (bractea)).
Bougainvillea disebut tanaman bunga kertas karena bentuk seludang bunganya yang tipis dan mempunyai ciri – ciri seperti kertas. Nama Inggris bunga ini adalah Bougainvillea yang diambil dari nama Sir Louis Antoine de Bougainville, seorang prajurit AL Perancis. Antara jenis pokok bunga kertas tersohor ialah Bougainvillea ‘Elizabeth Angus’; Bougainvillea ‘Red’; Bougainvillea Pultonii; Bougainvillea ‘Easter Parade’ dan Bougainvillea ‘Lady Mary Baring’.
Perawatannya pun mudah, tidak memerlukan waktu yang lama karena spesies tumbuhan ini sangat sesuai ditanam di kawasan beriklim tropis dan khatulistiwa seperti negara kita dan bisa tumbuh hingga 10 meter tingginya. Batang tanaman bunga ini agak keras, mempunyai duri yang tajam dan bercabang-cabang. Perkembang biakannya pula hanya memerlukan keratan batang yang disemai di dalam bungkus plastik ataupun pot dengan cara mudah. Selain itu, tanaman ini juga mempunyai sulur yang rapat, daun yang lebar dan berbentuk bujur tirus yang mampu membentuk rimbunan pokok di kawasan halaman rumah atau juga sebagai tumbuhan pagar di kawasan yang menarik.
Walaupun tanaman ini berukuran kecil dan berbentuk corong, namun memiliki banyak manfaat. Contohnya saja untuk dandanan rambut, campuran bunga untuk mandian pewangi, dan sebagai kegunaan di upacara pemakaman bagi kaum Cina dan India.
Tarikan mempesona bunga ini menjadi perbincangan penduduk di negara kita karena terkesan dengan bentuknya dan warnanya yang menarik hati. Warna bunga ini terdiri dari berbagai macam warna, seperti jingga, merah menyala, merah jambu, merah pucat, kuning, ungu, putih, dan berbagai campuran warna.
Sedikit perawatan ringkas, penyiraman air dan pemupukan sempurna mampu mengembalikan kesegaran tanaman bunga kertas ini dalam jangka waktu kurang dua minggu. Dan jika ingin tanaman bunga kertas ini berbunga seterusnya, kita hanya perlu mengurangi pemberian air dan pupuk lantas meletakkan pot tanaman di tempat yang terkena sinar matahari.
1 komentar
Posted in
Label:
iSi hAtiQ

hAri yAnG sElAmA iNi diNaNti tElAh tiba,,,,
Alhamdulillah,,,,
Allah masIh mEmbErikAnQ Umur yANG pAnjAnG,,,,,
hAri yAnG bEgiTU mElElAhkAn,,,,
bikin cApEk, sEbEl, mAnGkEl, sEnEng,,,,,
tApi yA nAmanyA Anak krEatif,,,,,
ya gitU,,,,
bikin rAmE pondOk,,,,
sAmpEk dimArAhin ndAlEm,,,,
kUq bisA yA???
yabisa lah,,,
bUktinyA Qta,,,
2
komentar
Posted in
Label:
ucapan

teman-teman,,,
sasi mnta maaf ya,,,
mungkin sasi punya banyak salah sama kalian, sasi minta maaf,,,,
sasi juga minta doanya teman-teman,,,,
biar sasi bisa berhasil,,,,
amiiiin,,,,,
0
komentar
Posted in
Label:
renungan
bEgitU bEsAr kAsih sAyAnG OrAnGtUa kEpAda anak, tApi mEngapa masih banyak anak yang durhaka kepada orangtua??? orangtua selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya, selalu mengumandangkan doa-doa dan harapan-harapan besar kepada anaknya,tapi apa balasan dari sang anak, ia malah pergi meninggalkan orangtuanya. orangtua yang selama ini menjaga, mendoakan, dan menyayanginya. disaat orang tua kembali lemah dan membutuhkan kasih sayang sang anak,ia harus hidup dengan susah payah, dengan sisa kakuatan yang ada.Hingga orangtua meninggal, lantas apa yang akan ia berikan kepada orangtuanya??/
hanya doa???
betapa teganya!!!!
mna jatidirimu sebagai seorang anak??/
0
komentar
Posted in
Lebih penting mana, menghargai atau dihargai? Memberikan apresiasi atau diapresiasi? Pertanyaan tersebut kerap kali mampir dan menggugah egosentrisme semua orang, sehingga pertanyaan tersebut cukup mampu memberikan “PR” pada diri kita. Bahkan, pertanyaan ini terkadang tidak begitu diperhitungkan sama sekali oleh masing-masing kita, sehingga tiap tindakan yang kita lakukan menjadi nihil atas nilai pengakuan pada eksistensi “the others”.
Menghargai adalah upaya memahami keberhasilan orang lain yang didasarkan pada penilaian obyektif atas prestasi tersebut. Menghargai itu memerlukan kedewasaan pemikiran yang kemudian mengantarkan pelakunya pada sikap obyektif tanpa kepentingan subyektif-personal atas sebuah prestasi. Memahami keberhasilan orang lain menuntut pengetahuan kita akan konteks dimana keberhasilan tersebut muncul dan menunjukkan kualitasnya.
Kepicikan akan muncul di benak masing-masing diri kita ketika sebuah prestasi dilihat dan dipahami secara parsial, tidak memiliki latar belakang, proses, dan lebih picik lagi ketika keberhasilan dianggap sama pada tiap ruang dan waktu. Artinya, apapun bentuk prestasi yang ditorehkan seseorang, kita anggap tidak lebih baik dibanding prestasi-prestasi lain, atau bahkan tidak lebih bermutu dari prestasi yang telah kita klaim sebagai “milik” kita. Inilah yang disebut dengan cara pandang ahistoris.
Memahami sebuah prestasi orang lain, berarti juga berupaya untuk mengetahui posisi dan eksistensi orang yang akan kita pahami. Disinilah persoalan mendasar muncul dan kita lupakan. Sering kali kita menganggap bahwa memahami eksistensi orang lain itu berbanding terbalik dengan upaya memahami diri sendiri. Hal ini kemudian memunculkan logika biner dalam benak kita ketika melihat tiap fakta yang terjadi. Logika biner inilah yang kemudian mengantarkan kita pada upaya mengkomparasi keberhasilan tersebut dengan keberhasilan kita. Lalu yang terjadi adalah munculnya pola pikir ahistoris atas keberhasilan tersebut, sehingga kita tidak lagi obyektif mengulas tiap poin prestasi itu sendiri, namun lebih melihat pada apa kelemahan atasnya.
Sebenarnya, mengerti akan orang lain itu berbanding lurus dengan mengerti pada diri sendiri. Upaya mendengarkan, melihat, mengukur, dan mengkritisi diri sendiri itu berbanding lurus dengan mendengarkan, melihat, mengukur dan mengkritisi orang lain. Mana yang lebih mudah? Tentu jawaban pertanyaan ini menjadi sangat relatif.
Mungkin jawaban umum akan mengatakan bahwa mengkritik orang lain seharusnya lebih mudah dibanding mengkritik diri sendiri. Sama juga dengan menelanjangi kesalahan orang itu lebih mudah daripada mengakui kesalahan diri sendiri. Jika memang jawaban ini yang kita sepakati, maka mengapa kita juga sulit menghargai orang lain. Apakah kritikan, penilaian, penghargaan, dan pujian atas orang lain itu berbeda? Tidak, kesemuanya adalah wujud eksternalisasi diri atas segala sesuatu di luar diri itu sendiri.
Jika kita mudah menyalahkan, seharusnya kita juga mudah membenarkan. Jika ingin didengar, maka dengarkanlah. Jika ingin berkata, biarkanlah mereka juga berkata. Kita hanya perlu belajar obyektif atas sesuatu. Maka yang harus kita pahami adalah bahwa semakin serius upaya melihat keluar, berarti semakin serius pula kita melihat kedalam. Makin tajam kita melakukan eksternalisasi, maka makin tajam pula kita lakukan internalisasi.
Belajar obyektif dalam melihat diri sendiri dan orang lain inilah yang saya rasakan sangat berat ketika belajar dengan sahabat-sahabat saya di bulan April 2010. Mereka mungkin juga memikirkan hal sama, atau tidak terpikir sama sekali.
Yang terpenting selama bulan itu, saya dan beberapa sahabat lain berupaya untuk memberi tanpa harus meminta. Mendengar tanpa harus berbicara dulu. Mengkritisi diri sebelum mengkritik orang lain. “Membengkeli” diri tanpa “mengendarai” orang lain. Bekerja tanpa berharap akan upah. Belajar tanpa menunggu orang lain belajar. Syukur bila orang lain ikut belajar.
Sumber : http://chabib.sunan-ampel.ac.id/?p=258





